RSS

Seorang Bidan Menjadi Pendidik Al-Qur’an

Cerita Orangtua Hilyah Qonita, juara 1 Hafizh Indonesia RCTI 2013

Image

Hilyah Qonita, Hafizh Indonesia RCTI

Sejak menikah, saya, Nuroniyah Manaf dan Suami, Muslim, sepakat menjadikan pendidikan Al-Qur’an sebagai landasan utama sebelum anak-anak belajar ilmu-ilmu yg lain. Kini, kami dikaruniai tiga orang anak, Aufa Alfa Zhillah (9), Hilyah Qonita (5), dan Muhammad Al Fatih (11 bulan). Kami tinggal di wilayah Kebon Jeruk Jakarta Barat.

Aktifitas saya sehari-hari adalah sebagai guru ngaji di rumah. Bersama suami, saya mengajarkan Al-Qur’an kepada anak-anak yg berada di lingkungan sekitar rumah. Sebelum mengabdi menjadi pengajar Al-Qur’an, saya pernah menjadi bidan di RS Islam Jakarta Pusat. Namun saat mengandung Aufa di usia kehamilan tujuh bulan, saya berhenti menjadi bidan karena ingin fokus mendidik anak-anak secara intensif. Aktifitas suami, selain menjadi guru di SDIT, juga menjadi guru ngaji, termasuk diantaranya menjadi guru Tahsin di Nurul Hikmah, Pesantren Ust.Muzammil.

Anak pertama, Aufa, Alhamdulillah sekarang sudah menyetorkan hafalannya sebanyak 13 juz. Ia menjadi santri Pesantren Nurul Hikmah sejak kelas 1 SD. Berbeda dengan Aufa, kami membuat program agar ia bisa menghafal Al-Qur’an di rumah, dengan mengikuti metode yang ada di Pesantren Nurul Hikmah. Alhamdulillah, hafalan Hilyah sekarang sudah lima juz. Yaitu juz 30 sampai juz 26, dan sekarang Hilyah sedang menghafal Juz 1. Hilyah juga mempunyai prestasi sebagaiu juara 1 MHQ juz 30 Islamic Book Fair 2012, juara 1 MHQ juz 29 dan 30 di LTQ Asy Syifa, juara 2 MHQ juz 29 dan 30 di Kafila Islamic International School se-DKI Jakarta dan Jawa Barat, dan yang terbaru adalah sebagai juara 1 Hafizh Indonesia RCTI 2013.

Capaian ini tidak instan. Program menghafal Qur’an sudah saya mulai sejak hamil, yaitu dengan memperbanyak mengkhatamkan Al-Qur’an. Khataman Al-Qur’an ini saya lakukan untuk merangsang tumbuh kembang otak janin sejak dari dalam kandungan. Saya juga selalu berkomunikasi dengan si kecil di kandungan saat tilawah. Ucapan semisal “De, Ibu mau tilawah surat Yusuf nih sekarang. Dengarkan ya..” selalu saya lakukan sambil saya mengelus perut.

Ketika lahir, kebiasaan mendengarkan bacaan Al-Qur’an tetap kami lanjutkan. Ayahnya biasanya memilih bacaan murattal Imam Misyari Rasyid karena temponya tidak terlalu cepat dan lebih syahdu. Hampir setiap hari pun saya mentalaqqikan surat-surat pendek di berbagai aktifitas, misalnya pada saat menyusui, makan, dan ganti popok. Di usianya 6 bulan, saya mulai memperkenalkan huruf-huruf hijaiyah sambil bermain dengan alat peraga yang saya buat sendiri dengan menggunting kertas origami warna-warni yang dibentuk sesuai huruf-huruf hijaiyah, lalu kami tempelkan di lembaran kardus yang besar.

Ketika mereka sudah bisa berucap, huruf-huruf hijaiyah yang selalu saya perkenalkan ternyata mereka hafal. Setelah itu saya menggunakan metode iqro untuk mengajari mereka membaca Al-Qur’an. Alhamdulillah, Aufa di usia 4 tahun, dan Hilyah di usia 3 tahun, sudah bisa membaca Al-Qur’an. Saya pun terus melatih kelancaran tilawah Qur’an mereka, sambil memberikan hafalan surat-surat di juz 30.

Hilyah mulai setor hafalan ketika usianya tiga tahun. Biasanya ia menyetor hafalannya sehabis asar dan muraja’ah di usai shalat shubuh. Kemudian di ba’da maghrib, bersama para santri, Hilyah mengaji di rumah dengan saya dan suami.

Saya bersyukur, proses menghafal Hilyah sampai sekarang tidak banyak kendala. Kuncinya, tekad yang kuat dan disiplin dari orangtua. Kami juga sadar bahwa lingkungan ikut mempengaruhi, oleh karenanya saya dan suami memilih tempat tinggal yang tenang, dan membatasi kegiatan menonton televisi. Dalam hal ini, orangtua tentu harus menjadi teladan bagi anak-anak dengan tidak banyak menonton televisi, sebaliknya memperbanyak interaksi dengan Al-Qur’an

(Disadur dari Buletin Pesantren Al-Qur’an Nurul Hikmah, edisi 10 November 2013/Muharram 1435 H)

 

Tags: , , , ,

Adab dan Etika Tilawah : Menghadap Ke Arah Kiblat

Diutamakan bagi pembaca Al Qur’an di luar sembahyang supaya menghadap kiblat. Hal ini telah banyak disebut dalam beberapa hadits: “Sebaik-baik majelis adalah yang menghadap kiblat.”

Hendaklah dia duduk dengan khusyuk dan tenang sambil menundukkan kepalanya dan duduk sendiri dengan adab baik dan tunduk seperti duduknya di hadapan gurunya, inilah yang paling sempurna. Diharuskan baginya membaca sambil berdiri atau berbaring atau di tempat tidurnya atau dalam keadaan lainnya dan dia mendapat pahala, akan tetapi nilainya kurang dari yang pertama.

 Image

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:  “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda (keagungan Allah Subhanahu wa Ta’ala) bagi orang-orang yang berakal. (Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah Subhanahu wa Ta’ala sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan Bumi…” (QS Ali-Imran 3:190-191)

Diriwayatkan dalam Shahih dari Aisyah Radhiyallahu ‘Anha, katanya: “Bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersandar di pangkuanku ketika aku sedang haid dan beliau membaca Al Qur’an.” (Riwayat Bukhari & Muslim)

Dalam suatu riwayat: “Beliau membaca Al Qur’an sedang kepalanya berada dipangkuanku.”

Diriwayatkan dari Abu Musa Al Asy’ari Radhiyallahu ‘Anh, katanya: “Aku membaca Al Qur’an dalam sembahyangku dan membacanya di atas tempat tidurku.”

Diriwayatkan dari Aisyah Radhiyallahu ‘Anh, katanya: “Sungguh aku membaca hizibku ketika aku berbaring di atas tempat tidurku.”

Imam An Nawawi

sumber : Fimadani.com

 
Leave a comment

Posted by on 24 September 2013 in Tilawah

 

Tags: , ,

Peneliti : Baca Al Quran Bisa Turunkan Nyeri Pasca Melahirkan

Peneliti Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) Harto Andi Irawan mengatakan membaca Al-Quran secara tartil dapat menjadi salah satu cara untuk menurunkan skala nyeri pada ibu pascamelahirkan secara caesar.

“Penelitian yang saya lakukan menunjukkan setelah membaca Al Quran selama 10 menit, 16 dari 31 pasien yang dijadikan sampel di Rumah Sakit Nur Hidayah Yogyakarta mengalami penurunan dari berbagai skala nyeri setelah menjalani operasi caesar,” katanya di Yogyakarta, Minggu.

Menurut mahasiswa Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) angkatan 2009 itu, nyeri dapat dihambat oleh adanya rangsangan saraf lain yang lebih kuat.

“Ketika membaca Al-Quran, tubuh melibatkan tiga jenis saraf yakni saraf untuk membaca ayat, menyuarakan, dan mendengarkan, sehingga rasa nyeri yang diterima otak berkurang,” katanya.

Ia mengatakan, penelitian itu telah direprentasikan pada “International Conference on Cross Cultural Collaboration in Nursing for Sustainable Development” di Bangkok, Thailand, 9-10 September 2013.

“Penelitian itu mendapatkan reaksi positif dari para peserta konferensi yang mayoritas non-Muslim. Mereka tertarik, antusiasme mereka sangat tinggi karena mereka baru pertama mengetahui penelitian seperti itu,” katanya.

Menurut dia, dirinya bangga dapat mempresentasikan hasil penelitiannya di luar negeri. Apalagi, konferensi itu diikuti peserta yang jenjang pendidikannya lebih tinggi.

“Sebagian besar peserta yang mempresentasikan hasil karyanya pada konferensi itu sudah S-2 dan S-3, bahkan ada yang profesor,” katanya.

Ia mengatakan, konferensi itu diselenggarakan Christian University of Thailand didukung oleh Azusa Pacific University of California dan Kimyung University. (Ella Syafputri/Ant)

Sumber: http://www.dakwatuna.com/2013/09/15/39302/peneliti-baca-al-quran-bisa-turunkan-nyeri-pasca-melahirkan/#ixzz2ex9A48GL
Follow us: @dakwatuna on Twitter | dakwatunacom on Facebook

 
Leave a comment

Posted by on 15 September 2013 in Tadabbur

 

Kajian Murottal MQ

Satu diantara sekian program yang ditawarkan MQ untuk ummat ialah kajian murottal. Pada semester lalu, kajian ini telah berlangsung selama 2x di ruang utama Mesjid Syamsul ‘Ulum. Pengisinya ialah guru tahsin dari lembaga Quran Maqdis yaitu Ust Kristryono. Di Maqdis sendiri beliau mengisi kajian rutin serupa bernama kajian maqomat.

C360_2013-04-27-19-40-46-628_org

Dokumentasi kajian murottal MQ 2013

Apa kajian murottal itu?

Kajian murottal adalah sebuah kajian yang membahas maqom atau irama dalam membaca Al Quran. Irama tersebut ada tujuh. Umumnya masyarakat hanya mengenal tujuh irama ini dalam Qiroah atau dalam cabang MTQ biasa disebut Tilawatil Quran. Padahal tujuh irama ini juga bisa digunakan dalam murottal atau dalam cabang MTQ biasa disebut Tartil.

Perbedaan antara murottal dan qiroah yaitu pada kecepatan, serta panjangnya. Jika murottal lebih cepat dan panjangnya seadanya, maka qiroah biasanya lebih lambat dan lebih panjang bacaannya.

Tentang tujuh irama tersebut mengikuti aturan dari lembaga Quran Maqdis, maka bisa disingkat Ba, Sho, Hi, Ji, Ni, Ka, Rost. 

Yaitu :

1. Bayyati

Biasa ditemui dalam rekaman murattal Sheikh Misyari Rasyid El Afasy atau bisa mendengar Thaha Al Junayd

2. Shoba

Ciri : Pelan dan sedih

3. Hijaz

Biasa ditemui dalam rekaman murattal Sheikh Hani Arrifa’i

4. Jiharkah

Ciri : Memiliki kemiripan dengan irama ala melayu/india

5. Nihawwand / Nahawwand

Biasa ditemui dalam rekaman murattal Sheikh Khusaery

6. Sikkah

Biasa ditemui dalam rekaman murattal Sheikh Sa’ad Al Ghamidy

7. Rost / Rostah

Biasa ditemui dalam rekaman murattal Sheikh Abdurrahman As Sudais

Dokumentasi Kajian Murottal 2013

Dokumentasi Kajian Murottal 2013

Adapun pada kajian Murottal 2 pertemuan sebelumnya, Ust Kris sudah menyampaikan tentang materi irama Nihawwand. Dokumentasi audio bisa didownload di link ini

Ke depan kajian ini akan akan dilakukan rutin setiap 2 pekan sekali di Mesjid Syamsul ‘Ulum IT Telkom.

 
Leave a comment

Posted by on 14 September 2013 in Kegiatan

 

Tags: , , , , ,

6 Sikap Muslim untuk Memuliakan Diri dengan Al Quran

Di dalam hadist riwayat Imam Bukhari, Rasul bersabda, “Dan sebaik-baik diantara kalian ialah yang belajar Al Quran dan mengajarkannya.”

Kita sebagai Muslim wajib menyadari kewajiban kita sebagai muslim, terutama kepada Al Quran. Al Quran itu sebagai petunjuk bagi manusia, telah dijelaskan dalam Al Quran.

Ada tiga kriteria pada orang Islam : muslim, baligh, akil. Orang Islam dengan tiga kriteria tersebut wajib membaca Al Quran. Selama masih ada tiga kriteria tersebut, maka beban hukum (taklif) dibebankan kepadanya. Kewajiban kita terhadap Al Quran melekat pada diri kita selama kita memilliki tiga muwashafat tadi.

 Image

Lalu ada 6 T sikap yang harus kita lakukan untuk memuliakan Al Quran :

1. Tasdiq

Tasdiq artinya mengimani atau membenarkan.

Yaitu setiap ayat/wahyu Allah dalam Al Quran, wajib kita imani dan tidak boleh ada keraguan sedikitpun.Didalam Albaqarah telah Allah jelaskan bahwa kita Al Quran ini tidak ada keraguan padanya (Al Baqarah :2)

2. Tilawah dengan baik dan benar.

Secara hukum adalah wajib.

Di dalam Al Quran Allah berfirman yang artinya, “Bacalah Al Quran dengan tartil.”

Tartil maksudnya yaitu membaca dengan tajwid dan mengetahui kaidah-kaidah waqaf.Satu alasannya yaitu karena Al Quran berbahasa Arab.Allah menjelaskan bahwa membaca Al Quran dengan tajwid itu hukumnya wajib dan siapa yang tidak membetulkan bacaan Al Quran, maka ia berdoa karena Allah menurunkan Al Quran dengan tajwid dan dengan tajwid itu Al Quran sampai.

Untuk menjalan kewajiban tersebut, semuanya butuh proses.

3. Tadabbur

Tadabbur adalah mengkaji, memahami, dan mempelajari isinya

Sebagaimana firman Allah yang artinya: “Inilah kitab yang kami turunkan kepadamu yang diberkahi supaya ditadabburi ayat-ayatnya dan diambil ulul albab.”

Dalam tafsir, Ulul Albab diterjemahkan sebagai orang yang memiliki akal sehat.

Atau didalam Al Quran, pada surah yang lain Allah berfirman yang artinya : Tidakkah mereka mentadabburi Al Quran atau dihatinya ada penutupnya.

Al Quran itu diturunkan dalam bahasa Arab ialah supaya kita mempelajarinya dan berfikir.Untuk itu, kita dianjurkan belajar bahasa Arab agar bisa mentadabburi Al Quran

4. Takdiq

Maksudnya adalah mengamalkan.

Al Quran harus dijadikan sebagai petunjuk, pedoman hidup kita. Untuk itu, harus diamalkan dalam kehidupan kita.

5. Tabligh

Yaitu mendakwahkannya.

Seperti dalam hadits Rasulullah yang artinya : Dan sebaik-baik di antara kalian adalah yang belajar Al Quran dan mengajarkannya.

Kalimat jihad di dalam Al Quran yang diikuti fii sabilillah itu artinya perang. Tapi jika tidak diikuti fii sabilillah, maka artinya secara umum yaitu sungguh-sungguh termasuk sungguh-sungguh dalam berdakwah.

6. Tahfizh

Artinya, menghafalkannya.

Menghafal secara keseluruhan hukumnya fardhu kifayah.Namun sebagian, hukumnya fardhu ain. Sesungguhnya orang yang didadanya tidak ada hafalan Al Quran, maka dia seperti rumah yang rusak/roboh.

Orang Arab terkenal dengan hafalan Al Qurannya, sekali dengar langsung hafal.Maka suatu kemuliaan jika kita merupakan salah satu dari orang yang turut menjaganya.

Kewajiban yang 6 tersebut tidak untuk dibanding-bandingkan, namun dilakukan, bukan hanya salah 1 yang wajib dikerjakan.Selain itu, sangat banyak sekali fadhilah (keutamaan) kita mempelajari Al Quran karena dalam beramal, kita perlu memahami kewajibannya, keutamaannya, dan diikuti dengan rasa penuh harap (roja’) serta harus memahami ancaman apabila mengabaikannya dan dengan rasa takut (khouf).

Hal yang penting lainnya yaitu kita perlu memahami keistimewaan Al Quran, dan tidak melupakan fadhilahnya karena memang sangat mudah sekali mengabaikannya jika tidak mengetahui dua hal tersebut.

Nabi Muhammad bersabda yang artinya, “Bacalah Al Quran karena yang akan datang di hari kiamat sebagai penolong adalah Al Quran.”

Semakin bagus interaksi kita dengan Alqur’anul karim maka semakin tinggi kedudukan kita di sisi Allah.Lalu Allah menjelaskan bahwa barangsiapa yang baik, bagus pemahamannya, bacaannya, pengamalannya terhadap Al Quran maka di akhirat nanti akan berada di kedudukan tinggi di sisi Allah dan Rasul-Nya nanti.

Agar kita termotivasi untuk mempelajari Al Quran, maka ingatlah janji Allah dan Rasulnya, pasti benar karena tidak ada janji yang paling baik dan benar selain janji Allah dan Rasul-Nya.Yang penting dari kita ialah memulai, tidak mencari alibi untuk menjauh dari Al Quran.Lalu yang penting dari kita sebagai seorang muslim itu, sebaiknya membaca Al Quran itu setiap hari.Selain itu, supaya kita lebih termotivasi untuk rutin membaca Al Quran, bisa mencari hal-hal lain yang bisa membuat kita semangat untuk belajar Al Quran, seperti mendengarkan murattal, mendengarkan orang lain, dan lain-lain.

Ustadz Arham bin Ahmad Yasin, Lc. MH

Dirangkum dari Kajian iSource Edisi III Salam UI, 19 April 2013, Mesjid Ukhuwah Islamiyah

dari fimadani

 

Tags: , , ,

Mempercantik Ibadah Dengan Sunnah Sujud Tilawah

كَانَ يَقْرَأُ الْقُرْآنَ فَيَقْرَأُ سُورَةً فِيهَا سَجْدَةٌ فَيَسْجُدُ وَنَسْجُدُ مَعَهُ حَتَّى مَا يَجِدُ بَعْضُنَا مَوْضِعًا لِمَكَانِ جَبْهَتِهِ

Nabi shallalahu ‘alaihi wa sallam pernah membaca Al Qur’an yang di dalamnya terdapat ayat sajadah. Kemudian ketika itu beliau bersujud, kami pun ikut bersujud bersamanya sampai-sampai di antara kami tidak mendapati tempat karena posisi dahinya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Image

Sujud tilawah adalah sujud yang disebabkan karena membaca atau mendengar ayat-ayat sajadah yang terdapat dalam Al Qur’an.

Terdapat 15 ayat sajdah di dalam Al Quran, yaitu :

  1. Al A’raf : 206
  2. Ar Ra’du : 15
  3. An Nahl : 50
  4. Al Isra : 109
  5. Maryam : 58
  6. Al Hajj : 18
  7. Al Hajj : 57
  8. Al Furqan : 60
  9. An Naml : 26
  10. As Sajdah : 15
  11. Sad : 24
  12. Fushilat : 38
  13. An Najm : 62
  14. Al Insyiqaq : 21
  15. Al Alaq : 19

Keutamaan Sujud Tilawah 

1. Dijauhi oleh syetan sambil menangis

Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا قَرَأَ ابْنُ آدَمَ السَّجْدَةَ فَسَجَدَ اعْتَزَلَ الشَّيْطَانُ يَبْكِى يَقُولُ يَا وَيْلَهُ – وَفِى رِوَايَةِ أَبِى كُرَيْبٍ يَا وَيْلِى – أُمِرَ ابْنُ آدَمَ بِالسُّجُودِ فَسَجَدَ فَلَهُ الْجَنَّةُ وَأُمِرْتُ بِالسُّجُودِ فَأَبَيْتُ فَلِىَ النَّارُ

Jika anak Adam membaca ayat sajadah, lalu dia sujud, maka setan akan menjauhinya sambil menangis. Setan pun akan berkata-kata: “Celaka aku. Anak Adam disuruh sujud, diapun bersujud, maka baginya surga. Sedangkan aku sendiri diperintahkan untuk sujud, namun aku enggan, sehingga aku pantas mendapatkan neraka.” (HR. Muslim no. 81)

2. Diharamkan neraka kepada bekas sujud kita

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

حَتَّى إِذَا فَرَغَ اللَّهُ مِنَ الْقَضَاءِ بَيْنَ الْعِبَادِ وَأَرَادَ أَنْ يُخْرِجَ بِرَحْمَتِهِ مَنْ أَرَادَ مِنْ أَهْلِ النَّارِ أَمَرَ الْمَلاَئِكَةَ أَنْ يُخْرِجُوا مِنَ النَّارِ مَنْ كَانَ لاَ يُشْرِكُ بِاللَّهِ شَيْئًا مِمَّنْ أَرَادَ اللَّهُ تَعَالَى أَنْ يَرْحَمَهُ مِمَّنْ يَقُولُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ. فَيَعْرِفُونَهُمْ فِى النَّارِ يَعْرِفُونَهُمْ بِأَثَرِ السُّجُودِ تَأْكُلُ النَّارُ مِنِ ابْنِ آدَمَ إِلاَّ أَثَرَ السُّجُودِ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَى النَّارِ أَنْ تَأْكُلَ أَثَرَ السُّجُودِ.

Hingga Allah pun menyelesaikan ketentuan di antara hamba-hamba-Nya, lalu Dia menghendaki dengan rahmat-Nya yaitu siapa saja yang dikehendaki untuk keluar dari neraka. Dia pun memerintahkan malaikat untuk mengeluarkan dari neraka siapa saja yang sama sekali tidak berbuat syirik kepada Allah. Termasuk di antara mereka yang Allah kehendaki adalah orang yang mengucapkan ‘laa ilaha illallah’. Para malaikat tersebut mengenal orang-orang tadi yang berada di neraka melalui bekas sujud mereka. Api akan melahap bagian tubuh anak Adam kecuali bekas sujudnya. Allah mengharamkan bagi neraka untuk melahap bekas sujud tersebut.” (HR. Bukhari no. 7437 dan Muslim no. 182)

Dari Ibnu Umar r.a. berkata, “Ketika Nabi Muhammad Saw, membacakan surah yang mengundang ayat sajdah di hadapan kami, beliau langsung sujud dan kami pun sujud pula sehingga ada yang tidak mendapat tempat untuk sujud, “(HR Bukhari, dan Imam Ahmad)

3. Mengangkat satu derajat dan juga menghapuskan satu kesalahan

Dalam shahih Muslim, An Nawawi menyebutkan sebuah Bab “Keutamaan sujud dan dorongan untuk melakukannya”. Dari Tsauban, bekas budak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dia ditanyakan oleh Ma’dan bin Abi Tholhah Al Ya’mariy mengenai amalan yang dapat memasukkannya ke dalam surga atau amalan yang paling dicintai di sisi Allah. Tsauban pun terdiam, hingga Ma’dan bertanya sampai ketiga kalinya. Kemudian Tsauban berkata bahwa dia pernah menanyakan hal ini pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu beliau menjawab,

عَلَيْكَ بِكَثْرَةِ السُّجُودِ لِلَّهِ فَإِنَّكَ لاَ تَسْجُدُ لِلَّهِ سَجْدَةً إِلاَّ رَفَعَكَ اللَّهُ بِهَا دَرَجَةً وَحَطَّ عَنْكَ بِهَا خَطِيئَةً

Perbanyaklah sujud kepada Allah. Sesungguhnya jika engkau bersujud sekali saja kepada Allah, dengan itu Allah akan mengangkat satu derajatmu dan juga menghapuskan satu kesalahanmu”.

4. Mendekatkan kita dengan Rasulullah di surga

Hadits lainnya yang menceritakan keutamaan sujud yaitu hadits Robi’ah bin Ka’ab Al Aslamiy. Dia menanyakan pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengenai amalan yang bisa membuatnya dekat dengan beliau di surga. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

فَأَعِنِّى عَلَى نَفْسِكَ بِكَثْرَةِ السُّجُودِ

“Bantulah aku (untuk mewujudkan cita-citamu) dengan memperbanyak sujud (shalat).” (HR. Bukhari dan Muslim)

Bagaimana hukum sujud tilawah?

Menurut Ats Tsauri, Abu Hanifah, salah satu pendapat Imam Ahmad, dan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, sujud tilawah itu wajib.

Sedangkan menurut jumhur (mayoritas) ulama yaitu Malik, Asy Syafi’i, Al Auza’i, Al Laitsi, Ahmad, Ishaq, Abu Tsaur, Daud dan Ibnu Hazm, juga pendapat sahabat Umar bin Al Khattab, Salman, Ibnu ‘Abbas,  ‘Imron bin Hushain, mereka berpendapat bahwa sujud tilawah itu sunnah dan bukan wajib.

Dalil ulama yang menyatakan sujud tilawah adalah wajib, yaitu firman Allah Ta’ala,

فَمَا لَهُمْ لَا يُؤْمِنُونَ وَإِذَا قُرِئَ عَلَيْهِمُ الْقُرْآنُ لَا يَسْجُدُونَ

“Mengapa mereka tidak mau beriman? dan apabila Al Quraan dibacakan kepada mereka, mereka tidak bersujud.” (QS. Al Insyiqaq: 20-21). Para ulama yang mewajibkan sujud tilawah beralasan, dalam ayat ini terdapat perintah dan hukum asal perintah adalah wajib. Dan dalam ayat tersebut juga terdapat celaan bagi orang yang meninggalkan sujud. Namanya celaan tidaklah diberikan kecuali pada orang yang meninggalkan sesuatu yang wajib.

Yang lebih tepat adalah sujud tilawah tidaklah wajib, namun sunnah (dianjurkan). Dalil yang memalingkan dari perintah wajib adalah hadits muttafaqun ‘alaih (diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim).

Dari Zaid bin Tsabit, beliau berkata,

قَرَأْتُ عَلَى النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – ( وَالنَّجْمِ ) فَلَمْ يَسْجُدْ فِيهَا

Aku pernah membacakan pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam surat An Najm, (tatkala bertemu pada ayat sajadah dalam surat tersebut) beliau tidak bersujud.” (HR. Bukhari dan Muslim). Bukhari membawakan riwayat ini pada Bab “Siapa yang membaca ayat sajadah, namun tidak bersujud.”

Dalil lain yang memalingkan dari perintah wajib adalah perbuatan Umar bin Khattab dan perbuatan beliau ini tidak diingkari oleh para sahabat lainnya ketika khutbah Jum’at.

Pada hari Jum’at Umar bin Khattab pernah membacakan surat An Nahl hingga sampai pada ayat sajadah, beliau turun untuk sujud dan manusia pun ikut sujud ketika itu. Ketika datang Jum’at berikutnya, beliau pun membaca surat yang sama, tatkala sampai pada ayat sajadah, beliau lantas berkata,

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا نَمُرُّ بِالسُّجُودِ فَمَنْ سَجَدَ فَقَدْ أَصَابَ ، وَمَنْ لَمْ يَسْجُدْ فَلاَ إِثْمَ عَلَيْهِ

Wahai sekalian manusia. Kita telah melewati ayat sajadah. Barangsiapa bersujud, maka dia mendapatkan pahala. Barangsiapa yang tidak bersujud, dia tidak berdosa.” Kemudian ‘Umar pun tidak bersujud. (HR. Bukhari no. 1077)

Dari sinilah Ibnu Qudamah mengatakan bahwa hukum sujud tilawah itu sunnah (tidak wajib) dan pendapat ini merupakan ijma’ sahabat (kesepakatan para sahabat). (Lihat Al Mughni, 3/96)

referensi :

rumaysho.com

 
Leave a comment

Posted by on 4 August 2013 in Tilawah

 

Tags: , , ,

Ramadhan Perlahan Habis, Semangat Tilawah Kian Menipis

Astaghfirullah, sepuluh hari awal Ramadhan tlah berlalu..
Bagaimana kabar iman kawanku?

Masihkah ia membara

Sembari charging ruhiyah intensif yang tiada tara?

Ataukah ia melemah

Termakan waktu nan semangat semu di ujung saja?

Ayo bangkit

Keluar dari zonamu dan perbanyak mimpi tuk dirakit

396271169_dsc_0257-version-2

-Sahabat, kemarin admin berkesempatan mendengar ceramah Ust Salim A. Fillah di Majelis Jejak Nabi Bandung. Dan apa yang dituliskan hari ini adalah sebagian kecil dari apa yang beliau sampaikan pada kajian tersebut, khususnya tentang menjaga ibadah. Namun afwan saya lupa nama ulama yang ceritanya beliau kutip, dan saya ceritakan dalam artikel ini. – M Faizal Ramadhan

 

Sejatinya, ruh itu akan rindu kepada rumahnya. Sebagaimana jasad yang mengalami hal serupa. Dimanakah rumah jasad? Bumilah tempatnya. Dan dimanakah rumah dari ruh? Surga. Itulah sebaik-baik tempat kembalinya.

Maka ketahuilah, sang jasad akan menggerakkan diri kita untuk senantiasa mencintai dunia, berlama-lama dengan kegemilangan yang ada, hingga nantinya ia menyatu kembali dengan bumi.

Sementara ruh, ianya sangat rindu kepada rumahnya. Karena ia disanalah bisa bersua dengan Allah. Maka ianya ingin sesegera mungkin kembali kepada-Nya. Namun sang jasad tadi mencegahnya. Lalu timbulah ketidakstabilan antara keinginan jasad yang terpenuhi dan ruh yang “galau”.

Untuk mengobatinya, ruh akan senang bila bisa berkomunikasi dengan pencipta-Nya. Lewat apa? Lewat kalamallah, Al Quran. Maka tak heran apabila hati kita benar-benar bersih, ruh kita akan sehat dan kita tidak akan pernah kenyang berinteraksi dengan Al Quran

Poin pertama dari cerita tersebut, ketika semangat kita menipis, boleh jadi hati kita sedang kotor. Mari bersihkan. Istighfar. Muhasabah. Dan segera berbenah.

Lalu bagaimana bila kita belum bisa menikmati tilawah? Tilawatil Quran, dan ibadah lainnya tentu kita sudah mengetahui keutamaannya. Namun tetap, rasanya jemu, bosan, monoton. Apakah perlu libur dulu tilawahnya?

Ketahuilah sahabat, ibadah kita hanya bisa dinikmati dengan iman. Ketika iman sedang melemah, menghindari ibadah justru akan menjatuhkan kualitas keimanan kita.

Rasulullah bersada ” Al imaanu yazidu wa yankus ” artinya iman itu  naik dan turun, berarti Nabi Muhammad pun tidak mengingkari keadaan iman yang  seperti  itu. Oleh karenanya,  beliau mendorong  dan memberi  arahan kepada kaum Muslim untuk selalu memperbaharui dan menjaga kondisi  iman supaya  jangan sampai turun drastis, yang pada akhirnya akan  menghantarkan ke dalam jurang kehinaan. Karena dengan kondisi tersebut, akan mudah mengantarkan seseorang berbuat dosa.

Seorang ulama mengatakan, perbaharui iman bisa dengan pemaknaan-pemaknaan yang dibangun dalam diri kita. Tentunya ilmu yang kita dapat, bukan hanya asal diketahui saja, namun juga ditelaah dan ditadabburi.

Poin kedua : Ketika tilawah, yuk mari sesekali baca artinya. Bahkan kalau ada tafsirnya. Al Quran mengandung berbagai kisah, motivasi, petuah yang luar biasa untuk kita terus dalami.

Image

Itulah dua tips sementara yang bisa kami berikan. Semoga bermanfaat.
Jazakumullah khairan katsiro

 
 

Tags: , , , , ,

 
%d bloggers like this: