RSS

Category Archives: Tilawah

Adab dan Etika Tilawah : Menghadap Ke Arah Kiblat

Diutamakan bagi pembaca Al Qur’an di luar sembahyang supaya menghadap kiblat. Hal ini telah banyak disebut dalam beberapa hadits: “Sebaik-baik majelis adalah yang menghadap kiblat.”

Hendaklah dia duduk dengan khusyuk dan tenang sambil menundukkan kepalanya dan duduk sendiri dengan adab baik dan tunduk seperti duduknya di hadapan gurunya, inilah yang paling sempurna. Diharuskan baginya membaca sambil berdiri atau berbaring atau di tempat tidurnya atau dalam keadaan lainnya dan dia mendapat pahala, akan tetapi nilainya kurang dari yang pertama.

 Image

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:  “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda (keagungan Allah Subhanahu wa Ta’ala) bagi orang-orang yang berakal. (Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah Subhanahu wa Ta’ala sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan Bumi…” (QS Ali-Imran 3:190-191)

Diriwayatkan dalam Shahih dari Aisyah Radhiyallahu ‘Anha, katanya: “Bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersandar di pangkuanku ketika aku sedang haid dan beliau membaca Al Qur’an.” (Riwayat Bukhari & Muslim)

Dalam suatu riwayat: “Beliau membaca Al Qur’an sedang kepalanya berada dipangkuanku.”

Diriwayatkan dari Abu Musa Al Asy’ari Radhiyallahu ‘Anh, katanya: “Aku membaca Al Qur’an dalam sembahyangku dan membacanya di atas tempat tidurku.”

Diriwayatkan dari Aisyah Radhiyallahu ‘Anh, katanya: “Sungguh aku membaca hizibku ketika aku berbaring di atas tempat tidurku.”

Imam An Nawawi

sumber : Fimadani.com

 
Leave a comment

Posted by on 24 September 2013 in Tilawah

 

Tags: , ,

6 Sikap Muslim untuk Memuliakan Diri dengan Al Quran

Di dalam hadist riwayat Imam Bukhari, Rasul bersabda, “Dan sebaik-baik diantara kalian ialah yang belajar Al Quran dan mengajarkannya.”

Kita sebagai Muslim wajib menyadari kewajiban kita sebagai muslim, terutama kepada Al Quran. Al Quran itu sebagai petunjuk bagi manusia, telah dijelaskan dalam Al Quran.

Ada tiga kriteria pada orang Islam : muslim, baligh, akil. Orang Islam dengan tiga kriteria tersebut wajib membaca Al Quran. Selama masih ada tiga kriteria tersebut, maka beban hukum (taklif) dibebankan kepadanya. Kewajiban kita terhadap Al Quran melekat pada diri kita selama kita memilliki tiga muwashafat tadi.

 Image

Lalu ada 6 T sikap yang harus kita lakukan untuk memuliakan Al Quran :

1. Tasdiq

Tasdiq artinya mengimani atau membenarkan.

Yaitu setiap ayat/wahyu Allah dalam Al Quran, wajib kita imani dan tidak boleh ada keraguan sedikitpun.Didalam Albaqarah telah Allah jelaskan bahwa kita Al Quran ini tidak ada keraguan padanya (Al Baqarah :2)

2. Tilawah dengan baik dan benar.

Secara hukum adalah wajib.

Di dalam Al Quran Allah berfirman yang artinya, “Bacalah Al Quran dengan tartil.”

Tartil maksudnya yaitu membaca dengan tajwid dan mengetahui kaidah-kaidah waqaf.Satu alasannya yaitu karena Al Quran berbahasa Arab.Allah menjelaskan bahwa membaca Al Quran dengan tajwid itu hukumnya wajib dan siapa yang tidak membetulkan bacaan Al Quran, maka ia berdoa karena Allah menurunkan Al Quran dengan tajwid dan dengan tajwid itu Al Quran sampai.

Untuk menjalan kewajiban tersebut, semuanya butuh proses.

3. Tadabbur

Tadabbur adalah mengkaji, memahami, dan mempelajari isinya

Sebagaimana firman Allah yang artinya: “Inilah kitab yang kami turunkan kepadamu yang diberkahi supaya ditadabburi ayat-ayatnya dan diambil ulul albab.”

Dalam tafsir, Ulul Albab diterjemahkan sebagai orang yang memiliki akal sehat.

Atau didalam Al Quran, pada surah yang lain Allah berfirman yang artinya : Tidakkah mereka mentadabburi Al Quran atau dihatinya ada penutupnya.

Al Quran itu diturunkan dalam bahasa Arab ialah supaya kita mempelajarinya dan berfikir.Untuk itu, kita dianjurkan belajar bahasa Arab agar bisa mentadabburi Al Quran

4. Takdiq

Maksudnya adalah mengamalkan.

Al Quran harus dijadikan sebagai petunjuk, pedoman hidup kita. Untuk itu, harus diamalkan dalam kehidupan kita.

5. Tabligh

Yaitu mendakwahkannya.

Seperti dalam hadits Rasulullah yang artinya : Dan sebaik-baik di antara kalian adalah yang belajar Al Quran dan mengajarkannya.

Kalimat jihad di dalam Al Quran yang diikuti fii sabilillah itu artinya perang. Tapi jika tidak diikuti fii sabilillah, maka artinya secara umum yaitu sungguh-sungguh termasuk sungguh-sungguh dalam berdakwah.

6. Tahfizh

Artinya, menghafalkannya.

Menghafal secara keseluruhan hukumnya fardhu kifayah.Namun sebagian, hukumnya fardhu ain. Sesungguhnya orang yang didadanya tidak ada hafalan Al Quran, maka dia seperti rumah yang rusak/roboh.

Orang Arab terkenal dengan hafalan Al Qurannya, sekali dengar langsung hafal.Maka suatu kemuliaan jika kita merupakan salah satu dari orang yang turut menjaganya.

Kewajiban yang 6 tersebut tidak untuk dibanding-bandingkan, namun dilakukan, bukan hanya salah 1 yang wajib dikerjakan.Selain itu, sangat banyak sekali fadhilah (keutamaan) kita mempelajari Al Quran karena dalam beramal, kita perlu memahami kewajibannya, keutamaannya, dan diikuti dengan rasa penuh harap (roja’) serta harus memahami ancaman apabila mengabaikannya dan dengan rasa takut (khouf).

Hal yang penting lainnya yaitu kita perlu memahami keistimewaan Al Quran, dan tidak melupakan fadhilahnya karena memang sangat mudah sekali mengabaikannya jika tidak mengetahui dua hal tersebut.

Nabi Muhammad bersabda yang artinya, “Bacalah Al Quran karena yang akan datang di hari kiamat sebagai penolong adalah Al Quran.”

Semakin bagus interaksi kita dengan Alqur’anul karim maka semakin tinggi kedudukan kita di sisi Allah.Lalu Allah menjelaskan bahwa barangsiapa yang baik, bagus pemahamannya, bacaannya, pengamalannya terhadap Al Quran maka di akhirat nanti akan berada di kedudukan tinggi di sisi Allah dan Rasul-Nya nanti.

Agar kita termotivasi untuk mempelajari Al Quran, maka ingatlah janji Allah dan Rasulnya, pasti benar karena tidak ada janji yang paling baik dan benar selain janji Allah dan Rasul-Nya.Yang penting dari kita ialah memulai, tidak mencari alibi untuk menjauh dari Al Quran.Lalu yang penting dari kita sebagai seorang muslim itu, sebaiknya membaca Al Quran itu setiap hari.Selain itu, supaya kita lebih termotivasi untuk rutin membaca Al Quran, bisa mencari hal-hal lain yang bisa membuat kita semangat untuk belajar Al Quran, seperti mendengarkan murattal, mendengarkan orang lain, dan lain-lain.

Ustadz Arham bin Ahmad Yasin, Lc. MH

Dirangkum dari Kajian iSource Edisi III Salam UI, 19 April 2013, Mesjid Ukhuwah Islamiyah

dari fimadani

 

Tags: , , ,

Mempercantik Ibadah Dengan Sunnah Sujud Tilawah

كَانَ يَقْرَأُ الْقُرْآنَ فَيَقْرَأُ سُورَةً فِيهَا سَجْدَةٌ فَيَسْجُدُ وَنَسْجُدُ مَعَهُ حَتَّى مَا يَجِدُ بَعْضُنَا مَوْضِعًا لِمَكَانِ جَبْهَتِهِ

Nabi shallalahu ‘alaihi wa sallam pernah membaca Al Qur’an yang di dalamnya terdapat ayat sajadah. Kemudian ketika itu beliau bersujud, kami pun ikut bersujud bersamanya sampai-sampai di antara kami tidak mendapati tempat karena posisi dahinya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Image

Sujud tilawah adalah sujud yang disebabkan karena membaca atau mendengar ayat-ayat sajadah yang terdapat dalam Al Qur’an.

Terdapat 15 ayat sajdah di dalam Al Quran, yaitu :

  1. Al A’raf : 206
  2. Ar Ra’du : 15
  3. An Nahl : 50
  4. Al Isra : 109
  5. Maryam : 58
  6. Al Hajj : 18
  7. Al Hajj : 57
  8. Al Furqan : 60
  9. An Naml : 26
  10. As Sajdah : 15
  11. Sad : 24
  12. Fushilat : 38
  13. An Najm : 62
  14. Al Insyiqaq : 21
  15. Al Alaq : 19

Keutamaan Sujud Tilawah 

1. Dijauhi oleh syetan sambil menangis

Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا قَرَأَ ابْنُ آدَمَ السَّجْدَةَ فَسَجَدَ اعْتَزَلَ الشَّيْطَانُ يَبْكِى يَقُولُ يَا وَيْلَهُ – وَفِى رِوَايَةِ أَبِى كُرَيْبٍ يَا وَيْلِى – أُمِرَ ابْنُ آدَمَ بِالسُّجُودِ فَسَجَدَ فَلَهُ الْجَنَّةُ وَأُمِرْتُ بِالسُّجُودِ فَأَبَيْتُ فَلِىَ النَّارُ

Jika anak Adam membaca ayat sajadah, lalu dia sujud, maka setan akan menjauhinya sambil menangis. Setan pun akan berkata-kata: “Celaka aku. Anak Adam disuruh sujud, diapun bersujud, maka baginya surga. Sedangkan aku sendiri diperintahkan untuk sujud, namun aku enggan, sehingga aku pantas mendapatkan neraka.” (HR. Muslim no. 81)

2. Diharamkan neraka kepada bekas sujud kita

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

حَتَّى إِذَا فَرَغَ اللَّهُ مِنَ الْقَضَاءِ بَيْنَ الْعِبَادِ وَأَرَادَ أَنْ يُخْرِجَ بِرَحْمَتِهِ مَنْ أَرَادَ مِنْ أَهْلِ النَّارِ أَمَرَ الْمَلاَئِكَةَ أَنْ يُخْرِجُوا مِنَ النَّارِ مَنْ كَانَ لاَ يُشْرِكُ بِاللَّهِ شَيْئًا مِمَّنْ أَرَادَ اللَّهُ تَعَالَى أَنْ يَرْحَمَهُ مِمَّنْ يَقُولُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ. فَيَعْرِفُونَهُمْ فِى النَّارِ يَعْرِفُونَهُمْ بِأَثَرِ السُّجُودِ تَأْكُلُ النَّارُ مِنِ ابْنِ آدَمَ إِلاَّ أَثَرَ السُّجُودِ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَى النَّارِ أَنْ تَأْكُلَ أَثَرَ السُّجُودِ.

Hingga Allah pun menyelesaikan ketentuan di antara hamba-hamba-Nya, lalu Dia menghendaki dengan rahmat-Nya yaitu siapa saja yang dikehendaki untuk keluar dari neraka. Dia pun memerintahkan malaikat untuk mengeluarkan dari neraka siapa saja yang sama sekali tidak berbuat syirik kepada Allah. Termasuk di antara mereka yang Allah kehendaki adalah orang yang mengucapkan ‘laa ilaha illallah’. Para malaikat tersebut mengenal orang-orang tadi yang berada di neraka melalui bekas sujud mereka. Api akan melahap bagian tubuh anak Adam kecuali bekas sujudnya. Allah mengharamkan bagi neraka untuk melahap bekas sujud tersebut.” (HR. Bukhari no. 7437 dan Muslim no. 182)

Dari Ibnu Umar r.a. berkata, “Ketika Nabi Muhammad Saw, membacakan surah yang mengundang ayat sajdah di hadapan kami, beliau langsung sujud dan kami pun sujud pula sehingga ada yang tidak mendapat tempat untuk sujud, “(HR Bukhari, dan Imam Ahmad)

3. Mengangkat satu derajat dan juga menghapuskan satu kesalahan

Dalam shahih Muslim, An Nawawi menyebutkan sebuah Bab “Keutamaan sujud dan dorongan untuk melakukannya”. Dari Tsauban, bekas budak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dia ditanyakan oleh Ma’dan bin Abi Tholhah Al Ya’mariy mengenai amalan yang dapat memasukkannya ke dalam surga atau amalan yang paling dicintai di sisi Allah. Tsauban pun terdiam, hingga Ma’dan bertanya sampai ketiga kalinya. Kemudian Tsauban berkata bahwa dia pernah menanyakan hal ini pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu beliau menjawab,

عَلَيْكَ بِكَثْرَةِ السُّجُودِ لِلَّهِ فَإِنَّكَ لاَ تَسْجُدُ لِلَّهِ سَجْدَةً إِلاَّ رَفَعَكَ اللَّهُ بِهَا دَرَجَةً وَحَطَّ عَنْكَ بِهَا خَطِيئَةً

Perbanyaklah sujud kepada Allah. Sesungguhnya jika engkau bersujud sekali saja kepada Allah, dengan itu Allah akan mengangkat satu derajatmu dan juga menghapuskan satu kesalahanmu”.

4. Mendekatkan kita dengan Rasulullah di surga

Hadits lainnya yang menceritakan keutamaan sujud yaitu hadits Robi’ah bin Ka’ab Al Aslamiy. Dia menanyakan pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengenai amalan yang bisa membuatnya dekat dengan beliau di surga. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

فَأَعِنِّى عَلَى نَفْسِكَ بِكَثْرَةِ السُّجُودِ

“Bantulah aku (untuk mewujudkan cita-citamu) dengan memperbanyak sujud (shalat).” (HR. Bukhari dan Muslim)

Bagaimana hukum sujud tilawah?

Menurut Ats Tsauri, Abu Hanifah, salah satu pendapat Imam Ahmad, dan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, sujud tilawah itu wajib.

Sedangkan menurut jumhur (mayoritas) ulama yaitu Malik, Asy Syafi’i, Al Auza’i, Al Laitsi, Ahmad, Ishaq, Abu Tsaur, Daud dan Ibnu Hazm, juga pendapat sahabat Umar bin Al Khattab, Salman, Ibnu ‘Abbas,  ‘Imron bin Hushain, mereka berpendapat bahwa sujud tilawah itu sunnah dan bukan wajib.

Dalil ulama yang menyatakan sujud tilawah adalah wajib, yaitu firman Allah Ta’ala,

فَمَا لَهُمْ لَا يُؤْمِنُونَ وَإِذَا قُرِئَ عَلَيْهِمُ الْقُرْآنُ لَا يَسْجُدُونَ

“Mengapa mereka tidak mau beriman? dan apabila Al Quraan dibacakan kepada mereka, mereka tidak bersujud.” (QS. Al Insyiqaq: 20-21). Para ulama yang mewajibkan sujud tilawah beralasan, dalam ayat ini terdapat perintah dan hukum asal perintah adalah wajib. Dan dalam ayat tersebut juga terdapat celaan bagi orang yang meninggalkan sujud. Namanya celaan tidaklah diberikan kecuali pada orang yang meninggalkan sesuatu yang wajib.

Yang lebih tepat adalah sujud tilawah tidaklah wajib, namun sunnah (dianjurkan). Dalil yang memalingkan dari perintah wajib adalah hadits muttafaqun ‘alaih (diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim).

Dari Zaid bin Tsabit, beliau berkata,

قَرَأْتُ عَلَى النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – ( وَالنَّجْمِ ) فَلَمْ يَسْجُدْ فِيهَا

Aku pernah membacakan pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam surat An Najm, (tatkala bertemu pada ayat sajadah dalam surat tersebut) beliau tidak bersujud.” (HR. Bukhari dan Muslim). Bukhari membawakan riwayat ini pada Bab “Siapa yang membaca ayat sajadah, namun tidak bersujud.”

Dalil lain yang memalingkan dari perintah wajib adalah perbuatan Umar bin Khattab dan perbuatan beliau ini tidak diingkari oleh para sahabat lainnya ketika khutbah Jum’at.

Pada hari Jum’at Umar bin Khattab pernah membacakan surat An Nahl hingga sampai pada ayat sajadah, beliau turun untuk sujud dan manusia pun ikut sujud ketika itu. Ketika datang Jum’at berikutnya, beliau pun membaca surat yang sama, tatkala sampai pada ayat sajadah, beliau lantas berkata,

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا نَمُرُّ بِالسُّجُودِ فَمَنْ سَجَدَ فَقَدْ أَصَابَ ، وَمَنْ لَمْ يَسْجُدْ فَلاَ إِثْمَ عَلَيْهِ

Wahai sekalian manusia. Kita telah melewati ayat sajadah. Barangsiapa bersujud, maka dia mendapatkan pahala. Barangsiapa yang tidak bersujud, dia tidak berdosa.” Kemudian ‘Umar pun tidak bersujud. (HR. Bukhari no. 1077)

Dari sinilah Ibnu Qudamah mengatakan bahwa hukum sujud tilawah itu sunnah (tidak wajib) dan pendapat ini merupakan ijma’ sahabat (kesepakatan para sahabat). (Lihat Al Mughni, 3/96)

referensi :

rumaysho.com

 
Leave a comment

Posted by on 4 August 2013 in Tilawah

 

Tags: , , ,

Ramadhan Perlahan Habis, Semangat Tilawah Kian Menipis

Astaghfirullah, sepuluh hari awal Ramadhan tlah berlalu..
Bagaimana kabar iman kawanku?

Masihkah ia membara

Sembari charging ruhiyah intensif yang tiada tara?

Ataukah ia melemah

Termakan waktu nan semangat semu di ujung saja?

Ayo bangkit

Keluar dari zonamu dan perbanyak mimpi tuk dirakit

396271169_dsc_0257-version-2

-Sahabat, kemarin admin berkesempatan mendengar ceramah Ust Salim A. Fillah di Majelis Jejak Nabi Bandung. Dan apa yang dituliskan hari ini adalah sebagian kecil dari apa yang beliau sampaikan pada kajian tersebut, khususnya tentang menjaga ibadah. Namun afwan saya lupa nama ulama yang ceritanya beliau kutip, dan saya ceritakan dalam artikel ini. – M Faizal Ramadhan

 

Sejatinya, ruh itu akan rindu kepada rumahnya. Sebagaimana jasad yang mengalami hal serupa. Dimanakah rumah jasad? Bumilah tempatnya. Dan dimanakah rumah dari ruh? Surga. Itulah sebaik-baik tempat kembalinya.

Maka ketahuilah, sang jasad akan menggerakkan diri kita untuk senantiasa mencintai dunia, berlama-lama dengan kegemilangan yang ada, hingga nantinya ia menyatu kembali dengan bumi.

Sementara ruh, ianya sangat rindu kepada rumahnya. Karena ia disanalah bisa bersua dengan Allah. Maka ianya ingin sesegera mungkin kembali kepada-Nya. Namun sang jasad tadi mencegahnya. Lalu timbulah ketidakstabilan antara keinginan jasad yang terpenuhi dan ruh yang “galau”.

Untuk mengobatinya, ruh akan senang bila bisa berkomunikasi dengan pencipta-Nya. Lewat apa? Lewat kalamallah, Al Quran. Maka tak heran apabila hati kita benar-benar bersih, ruh kita akan sehat dan kita tidak akan pernah kenyang berinteraksi dengan Al Quran

Poin pertama dari cerita tersebut, ketika semangat kita menipis, boleh jadi hati kita sedang kotor. Mari bersihkan. Istighfar. Muhasabah. Dan segera berbenah.

Lalu bagaimana bila kita belum bisa menikmati tilawah? Tilawatil Quran, dan ibadah lainnya tentu kita sudah mengetahui keutamaannya. Namun tetap, rasanya jemu, bosan, monoton. Apakah perlu libur dulu tilawahnya?

Ketahuilah sahabat, ibadah kita hanya bisa dinikmati dengan iman. Ketika iman sedang melemah, menghindari ibadah justru akan menjatuhkan kualitas keimanan kita.

Rasulullah bersada ” Al imaanu yazidu wa yankus ” artinya iman itu  naik dan turun, berarti Nabi Muhammad pun tidak mengingkari keadaan iman yang  seperti  itu. Oleh karenanya,  beliau mendorong  dan memberi  arahan kepada kaum Muslim untuk selalu memperbaharui dan menjaga kondisi  iman supaya  jangan sampai turun drastis, yang pada akhirnya akan  menghantarkan ke dalam jurang kehinaan. Karena dengan kondisi tersebut, akan mudah mengantarkan seseorang berbuat dosa.

Seorang ulama mengatakan, perbaharui iman bisa dengan pemaknaan-pemaknaan yang dibangun dalam diri kita. Tentunya ilmu yang kita dapat, bukan hanya asal diketahui saja, namun juga ditelaah dan ditadabburi.

Poin kedua : Ketika tilawah, yuk mari sesekali baca artinya. Bahkan kalau ada tafsirnya. Al Quran mengandung berbagai kisah, motivasi, petuah yang luar biasa untuk kita terus dalami.

Image

Itulah dua tips sementara yang bisa kami berikan. Semoga bermanfaat.
Jazakumullah khairan katsiro

 
 

Tags: , , , , ,

Keutamaan Memperindah Bacaan Al Quran

Pada zamannya, Rasulullah SAW adalah seorang qari’ yang membaca Al Quran dengan suara indah dan merdu. Beliau memang tidak bisa baca, dan tulis, dan langsung belajar Al Quran secara talaqqi dari Malaikat Jibril. Abdullah bin Mughaffal pernah mengilustrsikan suara Rasulullah dengan terperanjatnya unta yang ditunggangi Nabi ketika Nabi melantunkan suroh Al Fath. Pantaslah ketika dahulu para sahabat berjamaah dengan Rasul, ayat-ayat yang panjang tidak menyurutkan mereka untuk tetap setia mengisi shaf yang ada.

Para sahabat juga memiliki minat yang besar terhadap ilmu nagham ini. Sejarah mencatat sejumlah sahabat yang berpredikat sebagai qari’, diantaranya adalah : Abdullah Ibnu Mas’ud dan Abu Musa Al Asy’ari. Pada periode tabi’in, tercatat Umar bin Abdul Aziz dan Safir Al Lusi sebagai qari’ kenamaan. Sedangkan periode tabi’ tabi’in dikenal nama Abdullah bin Ali bin Abdillah Al Baghdadi dan Khalid bin Usman bin Abdurrahman.

Sahabat, masih ingatkah dengan kisah keislaman Umar bin Khattab? Umar bin khattab masuk islam karena jatuh cinta dengan ketinggian dan keindahasan bahasa al qur an, Abu sofyan dan abu jahal yang sebegitu membenci umat islam sering secara diam diam mendengarkan lantunan al quran yang dibaca oleh Rasulullah. Tahukah kita bahwa betapa banyak orang orang non muslim yang menjadi muallaf karena senang mendengar adzan. Lalu kenapa kita tidak menggunakan bahasa surga ini untuk menggugah kesadaran orang lain dari alam bawah sadar mereka?

  • Image

Berikut adalah beberapa hadist keutamaan memperindah bacaan Al Quran. Semoga makin memberikan kita semangat untuk memperindah bacaan kita. Dimulai dari dasar, belajar ilmu tajwid sembari memperlancar, kemudian memperindahnya.

1. “Hiasilah Al-Qur’an dengan suaramu, karena suara bagus itu akan menambahkan keindahan bagi Al-Qur’an.” (HR. Imam Hakim)

2. Dari Abu Lubabah yaitu Basyir Ibn Abdul Mundzir ra. bahwa Nabi saw. bersabda: ‘Barangsiapa tidak melagukan al-Quran, maka ia tidak termasuk golongan kami.

(HR Abu Daud dengan sanad yang baik)Makna: yataghanna atau bertaghanni ialah memperbaguskan suaranya ketika membaca al-Quran . Hadis sahih, diriwayatkan oleh Abu Daud, hadis no. 1258.

3. Dari Abu Hurairah ra. yang berkata: Aku mendengar Rasulullah saw. bersabda: ‘Allah tidak pernah mengizinkan sesuatu seperti mengizinkan seorang Nabi yang memiliki suara yang indah untuk melagukan al-Qur’an dan mengeraskan suaranya.’ (Muttafaq ‘alaih)

Dikatakan oleh para alim ulama: Bahwa sabda Nabi saw. : Yajharu bihi artinya: Memperkeraskan suara dalam membaca al-Quran ini adalah sebagai penjelasan dari bersabda : ‘yataghanna yakni bertaghanni dari kata ghina’.’ Makna: adzinallahu yakni mendengarkan. Ini sebagai tanda keredhaan dan diterima.Hadis sahih, diriwayatkan oleh al-Bukhari, hadis no. 4635, 4636, 6928, 6973 dan 6989; Muslim, hadis no. 1318 – 1320; Abu Daud, hadis no. 1259; al-Nasa’i, hadis no. 1007 dan 1008; Ahmad, hadis no. 7346, 7498 dan 9429; al-Darimi, hadis no. 3354, 3355 dan 3361.

4. “Sungguh Allah Swt. lebih serius mendengarkan seorang pembaca al-Qur’an dengan suara merdu daripada seorang pemilik biduan perempuan mendengar nyanyian biduannya.” (H.R. Imam Ahmad, Ibnu Majah, Ibnu Hibban dan Imam Hakim dari Fudhalah bin Ubaid).

5. Dari Abdullah bin ‘Amru bin Al ‘Ash ra. dari Nabi Muhammad saw. beliau bersabda, “Akan dikatakan kepada orang  yang membaca Al Qur’an: Baca, tingkatkan dan perindah bacaanmu sebagaimana kamu memperindah urusan di dunia, sesungguhnya kedudukanmu pada akhir ayat yang engkau baca.”(Riwayat Abu Daud dan Tirmizi, beliau berkata: Hadits ini hasan sahih)

6. Dari Ibnu Mas’ud ra. bahwasanya Nabi Muhammad saw. bersabda, “Yang paling layak mengimami kaum dalam shalat adalah mereka yang paling fasih membaca Al Qur’an.(Riwayat Muslim)

 

 

oleh M. Faizal Ramadhan

 
 

Tags: , , ,

Bagaimana Memilih Kecepatan Dalam Membaca Al Quran?

Image

Terkadang kita akan mendapati berbagai macam cara orang dalam membaca Al Quran. Disitulah mungkin timbul kebimbangan, ketika melihat orang lain membaca dengan cepat, sementara kita ingin juga kejar target namun ragu apakah boleh membaca secara demikian.

Sahabat sebelum membahasnya kita akan menyimak hukum mempelajari tajwid.

Tajwid

Adapun hukum mempelajari Ilmu Tajwid sebagai disiplin ilmu adalah fardu kifayah. maksudnya kewajibannya bisa digugurkan apabila ada orang lain yang melakukannya. Adapun hukum membaca Al Quran dengan memakai aturan-aturan tajwid adalah fardu ‘ain yaitu wajib bagi setiap dari kita. Firman Allah SWT:

وَرَتِّلِ الْقُرْ ا نَ تَرْتِيْلًا..

“Dan bacalah AlQuran dengan tartil.” (Q.S. Al-Muzzammil 73: 4).

Rasulullah SAW juga bersabda :

إ ِقْرَؤُوْا الْقُرْآَنَ بِلُحُوْنِ الْعَرَبِ وَ أَصْوَاتِهَا (رواه الطبران)

“Bacalah AlQuran dengan cara dan suara orang Arab yang fasih”. (HR. Thabrani)

Syekh Ibnul Jazari (Ulama pakar ilmu tajwid dan qiro’at) dalam syairnya mengatakan:

وَ الْأَخْذُ بِالتَّجْوِيْدِ حَتْمٌ لَازِمٌ # مَنْ لَمْ يُجَوِّدِ القُرْآَنَ اَثِمٌ
لِأَنَّهُ بِهِ الْإِلَهُ اَنْزَلَ # وَ هَكَذَا مِنْهُ اِلَيْنَا وَ صَلَا

“Membaca Al Quran dengan tajwid hukumnya wajib, Siapa saja yang membaca Al Quran tanpa memakai tajwid hukumnya dosa, Karena sesungguhnya Allah menurunkan Al Quran berikut tajwidnya. Demikianlah yang sampai pada kita dari-Nya.”

Karena itulah jangan heran jika tidak semua qori’ ternyata bisa membaca Al Quran dengan indah, dan mematuhi tajwid namun tidak semua mengerti hukum tajwid, nama mad dls.

Bagaimana dengan Tahsin?

Tujuan utama mempelajari ilmu tajwid dalam rangka tahsin tilawah adalah menjaga lidah dari kesalahan ketika membaca AlQuran. Dan kesalahan dalam membaca AlQuran ada dua macam :

a. ا َلَّلحْنُ اْلجَلِيْ /Al-Lahnul Jaliy

Kesalahan yang terlihat dengan jelas baik dikalangan awam maupun para ahli tajwid.

• perubahan bunyi huruf dengan huruf lain

• perubahan harakat dengan harakat lain

• memanjangkan huruf yang pendek atau sebaliknya.

• Mentasydidkan huruf yang tidak seharusnya atau sebaliknya.

b. اَلّلحْنُ اْلخَفِيْ /Al-Lahnul Khofiy

Kesalahan ringan yang tidak diketahui secara umum, kecuali oleh orang yang memiliki pengetahuan mengenai kesempurnaan membaca Al Quran. Diantaranya:

• hukum-hukum pembacaan seperti membaca mad wajib muttashil atau lazim dengan dua atau tiga harakat

• tidak menerapkan kaidah ghunnah pada huruf-huruf yang seharusnya dibaca dengan ghunnah.

Contoh :

أَنْزَلَ – يُنْفِقُوْنَ – وَمَا أَنْزَلَ مِنْ قَبْلِكَ – إِذَا جَآءَ

Lalu bagaimana bila membaca Al Quran dengan cepat?

Sebelum dijawab akan dipaparkan teknis membaca Al Quran dari segi kecepatan.
1. اَلتَّحْقِيْقُ (At-Tahqiq), yaitu bacaan yang sangat lambat, yang lazim digunakan untuk metode pembelajaran

2. التَّرْتِيْلُ (At-Tartil), yaitu bacaan perlahan dan tenang, cocok untuk sembari mentadabburi Al Quran

3. اَلتَّدْوِيْرُ (At-Tadwir), yaitu bacaan yang tidak terlalu capat dan tidak terlalu lambat, bacaan dengan irama yang sedang.

4. اَلْحَدَرُ (Al-Hadr), yaitu bacaan yang dilakukan dengan cepat

Dan apabila menemukan bacaan Quran yang cepat mungkin termasuk Al Hadr. Namun perlu diperhatikan kecepatan manapun yang digunakan wajib tetap memperhatikan ilmu tajwid.

Khusus Al Hadr, yang perlu diwaspadai :

1. Panjang mad dan tanwin perlu hati-hati jangan sampai hilang

2. Sifat makhorijul huruf tetap ada

3. Adapun membaca al-Quran dengan cepat hingga berakibat lahn yang dapat merusak terhadap arti atau

makna al-Quran, menghilangkan atau meninggalkan hukum-hukum yang ada dalam Tajwid, serta hurufnya

berubah, maka dihukumi haram.

Sementara yang harus diwaspadai dari cara At-Tahqiq:

1) Berlebih-lebihan dalam Ghunnah & panjang Mad

2) Mengulur harakat sehingga menyebabkan timbulnya huruf baru
Bagaimana kita memilih?

Pilihlah yang mudah bagi kita. Tentunya dengan tidak mengindahkan hukum tajwid yang ada. Sedikit demi sedikit, cara membaca Al-Quran boleh diubah menjadi lebih lambat, tetapi lebih benar bacaannya. Sebab meski jumlah yang dibaca sedikit, namun akan memberikan pahala yang lebih banyak, bila membacanya benar. Sebaliknya, meski yang dibaca banyak, tapi kalau salah semua, tentu kurang mendatangkan pahala. Malah boleh jadi terancam mendapat dosa.
Kesalahan dasar dalam membaca Quran jangan dilupakan juga.
1. Tidak konsisten dalam membaca tanda-tanda panjang.

2. Tidak konsisten/seimbang dalam membaca ghunnah.

3. Pengucapan vokal yang tidak sempurna.

4. Pengucapan huruf sukun yang tidak sesuai dengan kaidah tajwid (sering dipantulkan).

Silahkan memilih. Apabila ingin yang cepat atau lambat semua terserah pada kita. Namun bila ingin bisa membaca dengan teknik hadr atau cepat tidak ada cara lain selain berlatih. Maka latihlah diri kita, dan apabila belum bisa janganlah berkecil hati apalagi sampai iri hati. Allah selalu melihat amal berdasarkan niat, keikhlasan serta kesungguhan kita dalam menjalankannya. Dan tiada yang paling tahu tentang itu kecuali Allah bukan kawan?

Kesimpulan :
Cepat atau lambat tergantung bagaimana yang mudah bagi kita, asal wajib mematuhi tajwid

Oleh : M Faizal Ramadhan,
Referensi :

1. Baqi UPI

2. http://chirpstory.com/li/51227

3. http://blog.re.or.id/dosakah-kita-membaca-al-quran-mengabaikan-tajwid.htm

4. notes Facebook Von Odison 

 
4 Comments

Posted by on 17 July 2013 in Tilawah

 

Tags: , , , , , , , , , , ,

Membagi Prioritas Interaksi Dengan Al Quran Selama Ramadhan

Dalam berinteraksi dengan Al Quran, mungkin sesekali dijumpai beberapa perbedaan prioritas masing-masing pribadi khususnya selama Ramadhan.

Ada dari kita yang merasa cukup tilawah dengan target beberapa kali khatam sebagai target. Ada yang memilih memperbanyak hafalan.  Ada yang merasa cukup dengan mengikuti kajian kequranan sebagai media tadabbur. Dan bahkan ada yang merasa cukup mengamalkan Al Quran dalam keseharian yang ia ketahui saja. Lantas manakah jenis interaksi yang utama?

Tahukah kawan, prioritas dalam interaksi dengan Al Quran bukanlah memilih satu dan mengemsampingkan yang lain. Karena memilih satu akan memiliki kesan menyukai satu jenis cara dan membenci yang lain.

Image
Setiap jenis interaksi dengan Al Quran, memiliki hikmahnya masing-masing.

Tidaklah mungkin kita bisa menghafal bila tak terbiasa membaca. Kecuali bagi yang mengandalkan indera pendengaran dalam menghafal, dan itu juga hanya jarang orang yang bisa menghafal tanpa ada proses membacanya. Bagaimana bisa mengerti maknanya untuk kemudian dilakukan dalam keseharian jika tidak sama sekali memiliki hafalan atau pengetahuan tentangnya?

Itulah mengapa bahwa tilawah, menghafal, tadabbur, hingga implementasi adalah hal yang memiliki satu keterikatan sama lain. Tidak bisa hanya dipilih salah satu. Semuanya harus menjadi target bagi kita dengan keutamaan yang ada di masing-masing.

Lalu bagaimana mensiasati dengan waktu selama Ramadhan ini yang tidak panjang?

Dari Aisyah r.a. bahwa ia berkata, apabila Rasulullah SAW menyuruh para sahabatnya, maka beliau menyuruhnya untuk mengerjakan amalan-amalan yang sanggup mereka kerjakan. Akan tetapi kemudian mereka berkata, “Ya Rasulullah, kami ini tidak sepertimu. Allah telah mengampuni dosamu yang telah lalu dan yang akan datang.” Maka, mendengar ucapan mereka itu, Rasulullah SAW marah hingga terlihat tanda kemarahan di wajahnya. Beliau bersabda, “Sesungguhnya yang paling bertaqwa dan yang mengetahui tentang Allah diantara kamu sekalian adalah aku.” (H.R. Bukhari)

Dijelaskan dalam hadist Apabila Rasulullah SAW menyuruh para sahabatnya, maka beliau menyuruhnya untuk mengerjakan amalan-amalan yang sanggup mereka kerjakan. Inilah kebiasaan Rasulullah SAW dalam memerintah para sahabat untuk beramal. Dan inilah tuntunan Islam. Bahwa seorang muslim tidak dianjurkan memperberat diri dalam beribadah.

Karena itu kita dapati hadits lain yang membatasi amal sunnah agar tidak memberatkan umat Islam. Misalnya tilawah Al-Qur’am maksimal khatam satu kali dalam tiga hari. Tidak boleh lebih cepat dari itu. Puasa sunnah dibatasi yang paling tinggi adalah puasa daud, satu hari puasa satu hari tidak. Tidak boleh berpuasa terus menerus. Demikian pula untuk shalat malam disunnahkan agar tetap memiliki waktu istirahat, tidak shalat terus-menerus sepanjang malam.

Dalam hadist tersebut, Rasulullah marah dengan jawaban para sahabat. Bukan karena argumennya bahwa amal ibadah bisa mendatangkan ampunan dari Allah, tetapi karena Rasulullah mengkhawatirkan jika mereka justru tidak mampu istiqamah dan terus menerus beramal seandainya amal yang diperintahkan itu lebih berat. Juga agar umat Islam sepanjang generasi mencukupkan diri dengan sunnah.

Lalu bagaimanakah kemampuan kita?
Kemampuan kita tentunya sebanding dengan kebiasaan amal yaumiah, dan keinginan kita untuk bisa berinteraksi dengan Al Quran sebaik mungkin. Jangan lupa, Allah tidak hanya mengukur amal dari kuantitas, namun juga kualitas. Jadi jangan pernah menyepelekan orang lain sekiranya dia memilih jenis interaksi berbeda dengan kita. Cukuplah kita memiliki pengetahuan bahwa semuanya adalah PENTING dan UTAMA.

Kesimpulan :

1. Semua jenis interaksi harus menjadi target untuk kita kerjakan

2. Tidak boleh meremahkan orang lain yang fokus berinteraksi dengan cara yang berbeda dengan yang kta lakukan karena semuanya memiliki keutamaan masing-masing.

3. Melaksanakan interaksi dengan Al Quran sesuai dengan kemampuan kita yang terbaik dalam ikhtiar

4. Terus menjaga dan memperbaiki kuantitas serta kualitas interaksi Al Quran

Semoga Ramadhan ini menjadi sarana tarbiyah bagi kita, agar kuantitas dan kualitas ibadah bisa istiqomah ke depannya.

Oleh : M Faizal Ramadhan, Dirut MQSU 2012-2013

Sumber hadist :

http://www.bersamadakwah.com/2011/03/hadits-20-beramal-sesuai-sunnah-tidak.html

 

Tags: , , , ,

 
%d bloggers like this: