RSS

Category Archives: Tafsir & Kajian

6 Sikap Muslim untuk Memuliakan Diri dengan Al Quran

Di dalam hadist riwayat Imam Bukhari, Rasul bersabda, “Dan sebaik-baik diantara kalian ialah yang belajar Al Quran dan mengajarkannya.”

Kita sebagai Muslim wajib menyadari kewajiban kita sebagai muslim, terutama kepada Al Quran. Al Quran itu sebagai petunjuk bagi manusia, telah dijelaskan dalam Al Quran.

Ada tiga kriteria pada orang Islam : muslim, baligh, akil. Orang Islam dengan tiga kriteria tersebut wajib membaca Al Quran. Selama masih ada tiga kriteria tersebut, maka beban hukum (taklif) dibebankan kepadanya. Kewajiban kita terhadap Al Quran melekat pada diri kita selama kita memilliki tiga muwashafat tadi.

 Image

Lalu ada 6 T sikap yang harus kita lakukan untuk memuliakan Al Quran :

1. Tasdiq

Tasdiq artinya mengimani atau membenarkan.

Yaitu setiap ayat/wahyu Allah dalam Al Quran, wajib kita imani dan tidak boleh ada keraguan sedikitpun.Didalam Albaqarah telah Allah jelaskan bahwa kita Al Quran ini tidak ada keraguan padanya (Al Baqarah :2)

2. Tilawah dengan baik dan benar.

Secara hukum adalah wajib.

Di dalam Al Quran Allah berfirman yang artinya, “Bacalah Al Quran dengan tartil.”

Tartil maksudnya yaitu membaca dengan tajwid dan mengetahui kaidah-kaidah waqaf.Satu alasannya yaitu karena Al Quran berbahasa Arab.Allah menjelaskan bahwa membaca Al Quran dengan tajwid itu hukumnya wajib dan siapa yang tidak membetulkan bacaan Al Quran, maka ia berdoa karena Allah menurunkan Al Quran dengan tajwid dan dengan tajwid itu Al Quran sampai.

Untuk menjalan kewajiban tersebut, semuanya butuh proses.

3. Tadabbur

Tadabbur adalah mengkaji, memahami, dan mempelajari isinya

Sebagaimana firman Allah yang artinya: “Inilah kitab yang kami turunkan kepadamu yang diberkahi supaya ditadabburi ayat-ayatnya dan diambil ulul albab.”

Dalam tafsir, Ulul Albab diterjemahkan sebagai orang yang memiliki akal sehat.

Atau didalam Al Quran, pada surah yang lain Allah berfirman yang artinya : Tidakkah mereka mentadabburi Al Quran atau dihatinya ada penutupnya.

Al Quran itu diturunkan dalam bahasa Arab ialah supaya kita mempelajarinya dan berfikir.Untuk itu, kita dianjurkan belajar bahasa Arab agar bisa mentadabburi Al Quran

4. Takdiq

Maksudnya adalah mengamalkan.

Al Quran harus dijadikan sebagai petunjuk, pedoman hidup kita. Untuk itu, harus diamalkan dalam kehidupan kita.

5. Tabligh

Yaitu mendakwahkannya.

Seperti dalam hadits Rasulullah yang artinya : Dan sebaik-baik di antara kalian adalah yang belajar Al Quran dan mengajarkannya.

Kalimat jihad di dalam Al Quran yang diikuti fii sabilillah itu artinya perang. Tapi jika tidak diikuti fii sabilillah, maka artinya secara umum yaitu sungguh-sungguh termasuk sungguh-sungguh dalam berdakwah.

6. Tahfizh

Artinya, menghafalkannya.

Menghafal secara keseluruhan hukumnya fardhu kifayah.Namun sebagian, hukumnya fardhu ain. Sesungguhnya orang yang didadanya tidak ada hafalan Al Quran, maka dia seperti rumah yang rusak/roboh.

Orang Arab terkenal dengan hafalan Al Qurannya, sekali dengar langsung hafal.Maka suatu kemuliaan jika kita merupakan salah satu dari orang yang turut menjaganya.

Kewajiban yang 6 tersebut tidak untuk dibanding-bandingkan, namun dilakukan, bukan hanya salah 1 yang wajib dikerjakan.Selain itu, sangat banyak sekali fadhilah (keutamaan) kita mempelajari Al Quran karena dalam beramal, kita perlu memahami kewajibannya, keutamaannya, dan diikuti dengan rasa penuh harap (roja’) serta harus memahami ancaman apabila mengabaikannya dan dengan rasa takut (khouf).

Hal yang penting lainnya yaitu kita perlu memahami keistimewaan Al Quran, dan tidak melupakan fadhilahnya karena memang sangat mudah sekali mengabaikannya jika tidak mengetahui dua hal tersebut.

Nabi Muhammad bersabda yang artinya, “Bacalah Al Quran karena yang akan datang di hari kiamat sebagai penolong adalah Al Quran.”

Semakin bagus interaksi kita dengan Alqur’anul karim maka semakin tinggi kedudukan kita di sisi Allah.Lalu Allah menjelaskan bahwa barangsiapa yang baik, bagus pemahamannya, bacaannya, pengamalannya terhadap Al Quran maka di akhirat nanti akan berada di kedudukan tinggi di sisi Allah dan Rasul-Nya nanti.

Agar kita termotivasi untuk mempelajari Al Quran, maka ingatlah janji Allah dan Rasulnya, pasti benar karena tidak ada janji yang paling baik dan benar selain janji Allah dan Rasul-Nya.Yang penting dari kita ialah memulai, tidak mencari alibi untuk menjauh dari Al Quran.Lalu yang penting dari kita sebagai seorang muslim itu, sebaiknya membaca Al Quran itu setiap hari.Selain itu, supaya kita lebih termotivasi untuk rutin membaca Al Quran, bisa mencari hal-hal lain yang bisa membuat kita semangat untuk belajar Al Quran, seperti mendengarkan murattal, mendengarkan orang lain, dan lain-lain.

Ustadz Arham bin Ahmad Yasin, Lc. MH

Dirangkum dari Kajian iSource Edisi III Salam UI, 19 April 2013, Mesjid Ukhuwah Islamiyah

dari fimadani

 

Tags: , , ,

Q.S Al-Ma’un (Barang-Barang yang Berguna)

Surat ini menurut sebagian riwayat tergolong Makkiyah. Tapi menurut sebagian riwayat lagi tergolong Makkiyah-Madaniyah; 3 ayat pertama Makkiyah, dan sisanya Madaniyah. Pendapat yang kedua lebih diunggulkan. Walaupun secara keseluruhan, isi dari surat ini tentang riya’ dan kemunafikan yang belum dikenal dalam Jama’ah Muslim di Mekkah.

Sesungguhnya agama ini bukanlah agama yang hanya berkaitan dengan berbagai bentuk lahiriah dan ritual. Melainkan, lahiriah ibadah dan syi’ar yang berlandaskan pada keikhlasan dan ketulusan kepada Allah yang memberikan berbagai pengaruh terhadap hati sehingga mendorong untuk melakukan amal shalih. Hal ini tercermin dalam perilaku yang mengakibatkan kehidupan manusia di muka bumi ini menjadi baik dan maju.

Agama ini pun bukan penggalan-penggalan dan serpihan-serpihan yang berserakan, yang bisa ditunaikan dan ditinggalkan manusia sesukanya. Tetapi agama ini adalah sistem yang terpadu (manhaj mutakamil); di mana berbagai peribadatan dan syi’ar-syi’arnya, juga berbagai kewajiban individual dan sosialnya saling bekerjasama dan terkait, sehingga keseluruhannya mencapai suatu tujuan yang sepenuhnya memberikan kemashlahatan kepada manusia.

Seseorang secara lisan mungkin mengaku dia adalah muslim dan membenarkan agama dan berbagai persoalannya. Bisa jadi dia shalat  dan melakukan ibadah lain selain shalat, tapi hakikat keimanan dan pembenarannya masih sangat jauh darinya. Mengapa? Karena hakikat ini memiilki tanda-tanda dan bukti-bukti yang menunjukkan keberadaan dan realisasinya. Jadi, selama dia tak tergerak melakukan amal shalih, maka pada dsarnya hal ini merupakan bukti tidak adanya keimanan tersebut.

*

Surat ini diawali dengan pertanyaan yang mengarahkan setiap orang yang bisa melihat agar menyaksikan: “Tahukah kamu orang yang mendustakan agama?” dan menantikan orang yang mendengar pertanyaan ini untuk melihat ke mana isyarat itu ditujukan. Siapakah orang yang mendustakan agama itu? Siapakah yang ditetapkan Al-Quran sebagai pendusta agama itu?

“Itulah orang yang menghardik anak yatim.”

Sesungguhnya, orang yang mendustakan agama adalah orang yang menghardik anak yatim—yakni orang yang menghina dan menyakiti anak yatim.

“dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin.”

Dan orang yang tidak menganjurkan memberi makan orang miskin, juga tidak berpesan untuk memperhatikannya. Seandainya ia benar-benar membenarkan agama, maka peringatan ini akan menghujam ke dalam hatinya sehingga ia tidak akan membiarkan anak yatim dan tidak akan malas untuk menganjurkan memberi makan orang miskin.

Hakikat membenarkan agama bukan sekedar kalimat yang diucapkan isan, tetapi ia juga berproses di dalam hati sehingga mendorong untuk melakukan kebajikan kepada saudara-saudaranya. Allah tidak menghendaki ucapan-ucapan semata, tetapi Allah menghendaki agar ucapan-ucapan itu disertai amal perbuatan yang membuktikannya. Jika ucapan itu tanpa diikuti amal perbuatan, maka ucapan itu tidak ada artinya di hadapan Allah.



“Maka celakalah orang yang shalat. (yaitu) orang yang lalai dalam shalatnya.”

Ayat ini merupakan doa atau ancaman kehancuran bagi orang-orang yang shalat yang lalai dalam shalatnya. Siapakan orang yang lalai dalam shalat itu?

Sesungguhnya mereka adalah:

“Orang yang riya’.”

Mereka adalah orang yang shalat tetapi tidak menegakkan shalat. Orang-orang yang melakukan gerakan shalat dan mengucapkan doa-doanya, tetapi hati mereka tidak hidup bersamanya dan tidak menghyatinya. Ruh mereka tidak menghadirkan hakikat shalat dan hakikat apa yang terkandung di dalam bacaan-bacaan, doa-doa dan tasbih-tasbih yang diucapkannnya. Sesungguhnya mereka shalat karena riya’ kepada manusia tidak ikhlas kepada Allah. Oleh sebab itu, mereka lalai dalam shalat yang mereka tunaikan. Lalai dari kewajiban menegakkannya. Padahal, yang dituntut adalah menegakkan shalat, bukan sekedar menunaikannya. Menegakkan shalat takkan terwujud kecuali dengan menyadari hakikatnya dan melaksanakannya karena Allah semata.

“dan enggan (menolong dengan) barang yang berguna.”

Karena itu, shalat tidak akan bisa menumbuhkan berbagai pengaruhnya di dalam jiwa orang-orang yang shalat tetapi lalai dari fungsi shalat tersebut. Sehingga, mereka enggan menolong dengan sesuatu yang berguna. Mereka enggan memberikan bantuan kepada saudara-saudaranya. Mereka enggan memberikan bantuan kepada hamba-hamba Allah. Sekiranya mereka menegakkan shalat secara benar karena Allah, niscaya mereka tidak akan enggan memberi bantuan. Karena, memberikan bantuan merupakan batu ujian terhadap kebenaran ibadah yang diterima di sisi Allah.

*

Sungguh, betapa Allah menyayangi kita. Mengapa? Karena, Dia tidak menghendaki dari kita untuk diri-Nya Yang Maha Suci dan Maha Kaya, tetapi Dia menghendaki kebaikan dan kemashlahatan untuk kita sendiri. Dia menghendaki kebaikan untuk kita. Dia menghendaki kesucian hati dan kebahagiaan kehidupan kita. Dia menghendaki kehidupan yang tinggi bagi kita—kehidupan yang didasarkan pada perasaan yang bersih, saling bekerja sama, sifat yang mulia, rasa cinta, persaudaraan, dan kejernihan hati dan perilaku.

Ke manakah ummat manusia pergi jauh kebaikan  ini? Dari rahmat ini? Dari puncak ketinggian yang indah lagi mulia? Ke mana pergi untuk memerosokkan dan menjerumuskan diri ke dalam kesestaan jahiliyah yang gelap dan kotor, padahal di hadapan mereka ada cahaya di persimpangan jalan?

*

Bagaimana kabar shalat-shalat kita? Sudahkah ia mengisi hampa jiwa dan membekas di setiap perbuatan kita?

***

posted by lee
source:

Quthb, Sayyid. 2008. Tafsir Fi Zhilalil Quran Jilid 13 (Juz Amma). Jakarta: Robbani Press

http://www.alquran-indonesia.com/index.php?option=com_quran&task=detail&Itemid=70&surano=107

 

 
 

Tags: , , ,

Di Antara Firman Allah yang Menggambarkan Keberadaan Surga

Dan orang-orang yang bertakwa kepada Tuhan dibawa ke dalam syurga berombong-rombongan (pula). Sehingga apabila mereka sampai ke syurga itu sedang pintu-pintunya telah terbuka dan berkatalah kepada mereka penjaga-penjaganya: “Kesejahteraan (dilimpahkan) atasmu. Berbahagialah kamu! maka masukilah syurga ini, sedang kamu kekal di dalamnya”. Dan mereka mengucapkan: “Segala puji bagi Allah yang telah memenuhi janji-Nya kepada kami dan telah (memberi) kepada kami tempat ini sedang kami (diperkenankan) menempati tempat dalam syurga di mana saja yang kami kehendaki; maka syurga itulah sebaik-baik balasan bagi orang-orang yang beramal”. (QS. Az-Zumar [39] : 73-74)

Read the rest of this entry »

 

Tags:

 
%d bloggers like this: