RSS

Membagi Prioritas Interaksi Dengan Al Quran Selama Ramadhan

15 Jul

Dalam berinteraksi dengan Al Quran, mungkin sesekali dijumpai beberapa perbedaan prioritas masing-masing pribadi khususnya selama Ramadhan.

Ada dari kita yang merasa cukup tilawah dengan target beberapa kali khatam sebagai target. Ada yang memilih memperbanyak hafalan.  Ada yang merasa cukup dengan mengikuti kajian kequranan sebagai media tadabbur. Dan bahkan ada yang merasa cukup mengamalkan Al Quran dalam keseharian yang ia ketahui saja. Lantas manakah jenis interaksi yang utama?

Tahukah kawan, prioritas dalam interaksi dengan Al Quran bukanlah memilih satu dan mengemsampingkan yang lain. Karena memilih satu akan memiliki kesan menyukai satu jenis cara dan membenci yang lain.

Image
Setiap jenis interaksi dengan Al Quran, memiliki hikmahnya masing-masing.

Tidaklah mungkin kita bisa menghafal bila tak terbiasa membaca. Kecuali bagi yang mengandalkan indera pendengaran dalam menghafal, dan itu juga hanya jarang orang yang bisa menghafal tanpa ada proses membacanya. Bagaimana bisa mengerti maknanya untuk kemudian dilakukan dalam keseharian jika tidak sama sekali memiliki hafalan atau pengetahuan tentangnya?

Itulah mengapa bahwa tilawah, menghafal, tadabbur, hingga implementasi adalah hal yang memiliki satu keterikatan sama lain. Tidak bisa hanya dipilih salah satu. Semuanya harus menjadi target bagi kita dengan keutamaan yang ada di masing-masing.

Lalu bagaimana mensiasati dengan waktu selama Ramadhan ini yang tidak panjang?

Dari Aisyah r.a. bahwa ia berkata, apabila Rasulullah SAW menyuruh para sahabatnya, maka beliau menyuruhnya untuk mengerjakan amalan-amalan yang sanggup mereka kerjakan. Akan tetapi kemudian mereka berkata, “Ya Rasulullah, kami ini tidak sepertimu. Allah telah mengampuni dosamu yang telah lalu dan yang akan datang.” Maka, mendengar ucapan mereka itu, Rasulullah SAW marah hingga terlihat tanda kemarahan di wajahnya. Beliau bersabda, “Sesungguhnya yang paling bertaqwa dan yang mengetahui tentang Allah diantara kamu sekalian adalah aku.” (H.R. Bukhari)

Dijelaskan dalam hadist Apabila Rasulullah SAW menyuruh para sahabatnya, maka beliau menyuruhnya untuk mengerjakan amalan-amalan yang sanggup mereka kerjakan. Inilah kebiasaan Rasulullah SAW dalam memerintah para sahabat untuk beramal. Dan inilah tuntunan Islam. Bahwa seorang muslim tidak dianjurkan memperberat diri dalam beribadah.

Karena itu kita dapati hadits lain yang membatasi amal sunnah agar tidak memberatkan umat Islam. Misalnya tilawah Al-Qur’am maksimal khatam satu kali dalam tiga hari. Tidak boleh lebih cepat dari itu. Puasa sunnah dibatasi yang paling tinggi adalah puasa daud, satu hari puasa satu hari tidak. Tidak boleh berpuasa terus menerus. Demikian pula untuk shalat malam disunnahkan agar tetap memiliki waktu istirahat, tidak shalat terus-menerus sepanjang malam.

Dalam hadist tersebut, Rasulullah marah dengan jawaban para sahabat. Bukan karena argumennya bahwa amal ibadah bisa mendatangkan ampunan dari Allah, tetapi karena Rasulullah mengkhawatirkan jika mereka justru tidak mampu istiqamah dan terus menerus beramal seandainya amal yang diperintahkan itu lebih berat. Juga agar umat Islam sepanjang generasi mencukupkan diri dengan sunnah.

Lalu bagaimanakah kemampuan kita?
Kemampuan kita tentunya sebanding dengan kebiasaan amal yaumiah, dan keinginan kita untuk bisa berinteraksi dengan Al Quran sebaik mungkin. Jangan lupa, Allah tidak hanya mengukur amal dari kuantitas, namun juga kualitas. Jadi jangan pernah menyepelekan orang lain sekiranya dia memilih jenis interaksi berbeda dengan kita. Cukuplah kita memiliki pengetahuan bahwa semuanya adalah PENTING dan UTAMA.

Kesimpulan :

1. Semua jenis interaksi harus menjadi target untuk kita kerjakan

2. Tidak boleh meremahkan orang lain yang fokus berinteraksi dengan cara yang berbeda dengan yang kta lakukan karena semuanya memiliki keutamaan masing-masing.

3. Melaksanakan interaksi dengan Al Quran sesuai dengan kemampuan kita yang terbaik dalam ikhtiar

4. Terus menjaga dan memperbaiki kuantitas serta kualitas interaksi Al Quran

Semoga Ramadhan ini menjadi sarana tarbiyah bagi kita, agar kuantitas dan kualitas ibadah bisa istiqomah ke depannya.

Oleh : M Faizal Ramadhan, Dirut MQSU 2012-2013

Sumber hadist :

http://www.bersamadakwah.com/2011/03/hadits-20-beramal-sesuai-sunnah-tidak.html

 

Tags: , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: